Rabu, 27 Agustus 2014

Pameran Lukisan “PASREN” 2014

Momentum hut ri ke 69 menjadi moment yang sangat penting bagi masyarakat klaten dan Indonesia pada umumnya. Setelah banga ini melaksanakan pesta demokrasi dan pileg. Pilpres yang dilanjutkan dengan kesibuka mudik lebaran, kelelahan dan dan ketegangan masih sangat terasa.

PASREN (Paguyuban Seni Rupawan Klaten memaknai hut ri ke 69 dengan menggelar Pameran Seni Lukis PASREN 2014, disamping sebagai ajang apresiasi bagi masyarakat klaten dan pelajar di klaten , juga sebagai pelepas kejenuhan dan ketegangan ditengah kesibukan sekaligus sbagai pelepas dahaga di sela rutinitas. Kegiatan pameran ini juga sebagai ajang persatuan dan silaturahmi serta kebersamaan di tengan perbedaan pilihan.
Mari berkesnian, berapresiasi, bila mungkin silahkan mengoleksi dan lupakan nomor satu lpakan nomor dua. Mari menuju nomor tiga yaitu persatuan Indonesia.
Pameran Seni Lukis PASREN 2014 diadakan di gedung RSPD (Pandanaran) klaten mulai tanggal 17-22 Agustus 2014. Kegiatan itu mulai dibuka pada pukul 08.00-20.00 WIB.

Berikut beberapa profil Pelukis dan karyanya:
1.       Joko SP
Bertempat tinggal di puri mojayan asri B 18 Klaten 57416, No. Telp. (0272) 320630 HP. 0813 2803 2930 . Blog : www.jakasppainter. Wordpress.com

2.       Ansori
Pelukis otodidak sekaligus sebagai ketua PASREN ini bertempat tinggal di Jln. Cemara no.14 Klaten, HP. 0815 4290 1903, pelukis ini aktif berpameran di kota-kota besar di Indonesia.


3.       Kus Indra
Bertempat tinggal di metuk lor, Rt.02 Rw.01, metuk lor, tegalyoso, klaten. HP. 0858 7621 6938 , Blog : www.kusindragallery.blogspot.com



Dan berikut beberapa foto dokumentasi saat Pameran Lukisan "PASREN" 2014 :

Tari Bali - Ehi Purwandari




Pisang - Karang Sasangka

Sound Of Nature - Jaka SP

Metalica - Sugino


 

Karnaval Pembangunan Kabupaten Klaten

Dalam rangka memperingat HUT RI ke 69 dan HUT Kabupaten Klaten ke 210, Pemerintah Kabupaten Klaten mengadakan karnaval pembangunan. Acara itu diikuti beberapa warga Klaten, seperti dari beberapa sekolah, paguyuban, perusahaan, dll. Karanaval itu berlangsung pada tanggal 19 Agustus 2014 yang dimulai pada pukul 13.00 dan berakhir pada pukul 16.00 WIB. Acara itu berlangsung di sepanjang JL. Pemuda Kabupaten Klaten.

Beberapa sekolah seperti SMK  1 Trucuk, SMA N 2 Klaten, SMA N 3 Klaten, SMP N 3 Klaten, SMP N 1 Ngawen, dll ikut memeriahkan acara itu. Sebagian dari mereka kebanyakan menampilkan profil sekolah mereka dan beberapa ekstrakulikuler dari setiap sekolah.




Ada juga peserta karnaval dari beberapa paguyuban di kabupaten klaten seperti Reog ponorogo.





Selain dari sekolah dan paguyuban, beberapa perusahaan di kabupaen klaten juga ikut berpartisipasi di karnaval itu. Seperti dari Naga mas motor, Asmat Pro Klaten dan amigo group.





Berikut beberapa foto dokumentasi saat Karnaval Pembangunan Kabupaten Klaten.












Dengan diadakan karnaval ini, semoga rakyat Indonesia terutama warga klaten dapat lebih melestarikan dan menjaga kebudayaan Republik Indonesia. -Aza Belyna Fransysxa-

Kamis, 14 Agustus 2014

Perubahan Makna Kata


A.    Faktor penyebab perubahan makna kata :

1.    Ilmu dan teknologi
2.    Sosial dan budaya
3.    Perbedaan bidang pemakaian
4.    Adanya asosiasi
5.    Pertukaran tanggapan indera
6.    Perbedaan tanggapan
7.    Adanya penyingkatan
8.    Proses gramatikal
9.    Pengembangan istilah

B.    Macam-macam perubahan makna :
1.    Meluas (generalisasi), Cakupan makna sekarang (kini) lebih luas daripada makna yang lama.
Contoh:
a.    Pelayaran ke negara Perancis itu dipimpin oleh Kapten Sugianto.
Kata pelayaran dulu atau asalnya bermakna mengarungi lautan dengan perahu layar.
Kini kata pelayaran bermakna mengarungi lautan dengan kapal bermesin.
b.    Siapa yang Ibu cari di sini?
Kata ibu memiliki makna asal orang tua kandung yang wanita.
Kata ibu saat dapat untuk menyebut wanita yang berkedudukan lebih tinggi daripada kita.

2.    Menyempit (spesialisasi), Cakupan makna kata yang sekarang lebih sempit atau terbatas daripada makna yang dulu atau makna asalnya.
Contoh :
a.    Saya bercita-cita ingin menjadi sarjana pendidikan.
Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut cendekiawan atau orang pintar atau orang berilmu.
Sekarang kata sarjana dipakai untuk menyebut orang yang telah lulus dari jenjang strata satu di perguruan tinggi
b.    Sekarang ini di kota-kota besar banyak terdapat biro jasa yang menyalurkan para pembantu.
Makna asal kata pembantu adalah orang yang membantu.
Sekarang kata pembantu dipakai untuk menyebut pembantu rumah tangga atau pelayan.

3.    Membaik (Amelioratif), Suatu proses perubahan makna yang membuat makna kata baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilai rasa bahasanya daripada makna kata lama.
Contoh:
a.    Anak-anak penyandang tunarungu pun berhak mengeyam pendidikan.
Kata tunarungu dirasakan lebih halus dan sopan nilai rasa bahasanya daripada kata tuli.
b.    Dalam acara perpisahan siswa kelas III kepala sekolah hadir bersama istri.
Kata istri dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilai rasa bahasanya daripada kata bini.

4.    Memburuk (Peyoratif), Suatu proses perubahan makna yang membuat makna kata baru dirasakan lebih rendah nilai rasa bahasanya daripada nilai pada makna kata lama.
Contoh
a.    Direktur perusahaan ini ternyata berbini tiga.
Kata bini dianggap baik pada masa lampau, tetapi sekarang dirasakan kasar.
b.    Empat narapidana kabur dari lembaga pemasyarakatan itu.
Kata kabur dianggap baik pada masa lampau, yaitu lari, tetapi sekarang dirasakan kurang baik, yaitu menghilang.

5.    Sinestesia, Perubahan makna kata akibat pertukaran tanggapan antara dua indra yang berlainan.
Misalnya: pengecap, pendengaran, pendengaran, pengecap, penglihatan, pengecap
Contoh:
a.    Suara penyanyi Erni Johan sampai saat ini masih empuk.
Kata empuk sebenarnya yang merasakan adalah indra peraba (kulit) dengan makna lunak atau tidak keras. Akan tetapi, pada kalimat tersebut kata empuk yang merasakan adalah indra pendengar ( telinga) dengan makna merdu.
b.    Pidatonya hambar.
Kata hambar sebenarnya yang merasakan adalah indra pengecap (lidah) dengan makna tawar atau tidak ada rasanya. Kata hambar dalam kalimat tersebut yang merasakan indra pendengar (telinga) dengan makna monoton atau kurang menggairahkan.

6.    Asosiatif, Perubahan makna kata yang terjadi karena persamaan sifat.
Contoh :
a.    Orang itu mencatut nama pejabat untuk mencari sumbangan.
Kata catut berarti alat untuk menarik atau mencabut paku dan sebagainya.
Berdasarkan persamaan sifat ini, kata catut dipakai untuk menyatakan makna mengambil sesuatu yang bukan haknya.
b.    Janganlah kita membiasakan diri memberi amplop dalam mengurus sesuatu!
Kata amplop berarti alat untuk menyimpan surat.
Berdasarkan sifat ini, kata amplop dipakai untuk menyatakan makna memberi uang sogokan atau uang pelicin.
 

Aza Fransysxa Template by Ipietoon Cute Blog Design and Homestay Bukit Gambang