A.
Faktor penyebab perubahan makna kata :
1. Ilmu dan teknologi
2. Sosial dan budaya
3. Perbedaan bidang pemakaian
4. Adanya asosiasi
5. Pertukaran tanggapan indera
6. Perbedaan tanggapan
7. Adanya penyingkatan
8. Proses gramatikal
9. Pengembangan istilah
B. Macam-macam perubahan makna :
1. Meluas (generalisasi), Cakupan makna sekarang (kini) lebih
luas daripada makna yang lama.
Contoh:
a. Pelayaran ke negara Perancis itu dipimpin oleh Kapten Sugianto.
Kata pelayaran dulu atau asalnya bermakna mengarungi lautan dengan perahu
layar.
Kini kata pelayaran bermakna mengarungi lautan dengan kapal bermesin.
b. Siapa yang Ibu cari di sini?
Kata ibu memiliki makna asal orang tua kandung yang wanita.
Kata ibu saat dapat untuk menyebut wanita yang berkedudukan lebih tinggi
daripada kita.
2. Menyempit (spesialisasi), Cakupan makna kata yang sekarang
lebih sempit atau terbatas daripada makna yang dulu atau makna asalnya.
Contoh :
a. Saya bercita-cita ingin menjadi sarjana pendidikan.
Kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut cendekiawan atau orang pintar atau
orang berilmu.
Sekarang kata sarjana dipakai untuk menyebut orang yang telah lulus dari
jenjang strata satu di perguruan tinggi
b. Sekarang ini di kota-kota besar banyak terdapat biro jasa
yang menyalurkan para pembantu.
Makna asal kata pembantu adalah orang yang membantu.
Sekarang kata pembantu dipakai untuk menyebut pembantu rumah tangga atau
pelayan.
3. Membaik (Amelioratif), Suatu proses perubahan makna yang
membuat makna kata baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilai rasa
bahasanya daripada makna kata lama.
Contoh:
a. Anak-anak penyandang tunarungu pun berhak mengeyam
pendidikan.
Kata tunarungu dirasakan lebih halus dan sopan nilai rasa bahasanya daripada
kata tuli.
b. Dalam acara perpisahan siswa kelas III kepala sekolah
hadir bersama istri.
Kata istri dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilai rasa bahasanya daripada
kata bini.
4. Memburuk (Peyoratif), Suatu proses perubahan makna yang
membuat makna kata baru dirasakan lebih rendah nilai rasa bahasanya daripada
nilai pada makna kata lama.
Contoh
a. Direktur perusahaan ini ternyata berbini tiga.
Kata bini dianggap baik pada masa lampau, tetapi sekarang dirasakan kasar.
b. Empat narapidana kabur dari lembaga pemasyarakatan itu.
Kata kabur dianggap baik pada masa lampau, yaitu lari, tetapi sekarang
dirasakan kurang baik, yaitu menghilang.
5. Sinestesia, Perubahan makna kata akibat pertukaran
tanggapan antara dua indra yang berlainan.
Misalnya: pengecap, pendengaran, pendengaran, pengecap, penglihatan, pengecap
Contoh:
a. Suara penyanyi Erni Johan sampai saat ini masih empuk.
Kata empuk sebenarnya yang merasakan adalah indra peraba (kulit) dengan makna
lunak atau tidak keras. Akan tetapi, pada kalimat tersebut kata empuk yang
merasakan adalah indra pendengar ( telinga) dengan makna merdu.
b. Pidatonya hambar.
Kata hambar sebenarnya yang merasakan adalah indra pengecap (lidah) dengan
makna tawar atau tidak ada rasanya. Kata hambar dalam kalimat tersebut yang
merasakan indra pendengar (telinga) dengan makna monoton atau kurang
menggairahkan.
6. Asosiatif, Perubahan makna kata yang terjadi karena
persamaan sifat.
Contoh :
a. Orang itu mencatut nama pejabat untuk mencari sumbangan.
Kata catut berarti alat untuk menarik atau mencabut paku dan sebagainya.
Berdasarkan persamaan sifat ini, kata catut dipakai untuk menyatakan makna
mengambil sesuatu yang bukan haknya.
b. Janganlah kita membiasakan diri memberi amplop dalam
mengurus sesuatu!
Kata amplop berarti alat untuk menyimpan surat.
Berdasarkan sifat ini, kata amplop dipakai untuk menyatakan makna memberi uang
sogokan atau uang pelicin.